Showing posts with label Ekspresi. Show all posts
Showing posts with label Ekspresi. Show all posts

Friday, August 22, 2008

Artikel
Perlu beberapa detik bagiku untuk mengerti paket kiriman yang disodorkan pagi ini. Ternyata tak lain adalah sebuah majalah, yakni majalah alumni kampus "Link". Yang saya yakin dikirim oleh seorang teman, sesuai dengan janjinya beberapa waktu lalu.

Singkat cerita, tulisan tentang "Wayang Gantung(Chiao Theu)" pernah diminta untuk dimuat ke dalam majalah tersebut. Setelah dipadukan dengan foto-foto yang lebih jelas dari seorang teman, akhirnya dikirim ke redaksi.



Thank you "Lem" atas kesempatannya. Semoga bermanfaat.


Saturday, March 29, 2008

"Kaca retak"

Kala itu gerimis mengiringi sirene keberangkatan. Perlahan-lahan kecepatannya bertambah, menimbulkan suara-suara khas gesekan roda dan rel kereta. Lorong gerbong itu tampak sepi mungkin karena hari biasa, sehingga nomor kursi pun tak jadi soal untuk duduk di mana saja sesuai pilihan.

Kami pun berpencar, melirik posisi strategis agar bisa duduk dengan lega. Sejenak aku memandang keluar jendela, tampak gerimis masih membasahi kaca. Kaca itu retak, entah oleh apa kemungkinan besar akibat hantaman sesuatu dari sisi luar.


Kereta itu belum lama meluncur, sesekali aku layangkan pandang keluar jendela lagi. Tampak sebuah taksi sedang meluncur di jalanan. Pemandangan taksi dibalik kaca jendela yang retak itu mengingatkan saya akan sebuah obrolan di kala subuh. Obrolan hangat bersama seorang supir taksi yang sedang retak hatinya.


Waktu itu saya sedang menuju bandara, untuk berangkat ke "meeting point" yang telah disepakati bersama dalam memulai perjalanan kami menuntaskan rasa penasaran akan pesona laguna di sebuah pulau.

"Mau berangkat ke mana Pak?" supir itu membuka obrolan dalam kegelapan jalanan ibukota menuju bandara. "Surabaya" jawabku, sambil menyodorkan lembaran untuk membayar tol. Dan obrolan pun berlanjut dalam perjalanan itu, yang ternyata si supir ini cerita kalau dia berasal dari daerah sekitar Brebes.

"Ow, Brebes yang terkenal dengan bawang merah itu?" tanyaku, "Iya benar Pak!" jawabnya dan si supir pun lalu melanjutkan ceritanya tentang cara menanam bawang di sana. Obrolan itu mengalir sedemikian rupa, sampai-sampai si supir curhat akan masalah hatinya yang diakibatkan oleh cinta.

"Sakit mas, bener sakit hatiku!" kesal si supir. "Kalau saya puasa 40 hari saja, bisa kena dia" lanjutnya. "Bisa kenapa dia? puter giling gitu?" tanyaku penasaran sambil teringat kisah di cergam petruk gareng zaman dulu. "Ya ... bisa kena akibatnya lah, jadi gila" jawab si supir. Begitulah lontaran kata-katanya setelah dia menuturkan perasaan sakit hatinya dikhianati oleh sang pacar waktu itu yang telah menerima lamarannya. Konon pacarnya itu pergi dan memutuskan dia tanpa alasan yang jelas.

Memang prihatin mendengar penuturannya kala itu, namun rasanya kurang adil juga kalau hanya tahu dari satu sisi dalam mengambil sebuah kesimpulan benar dan salah. Obrolan kami tetap berlanjut , yang tanpa disadari kami jadi mendiskusikan tentang tujuan hidup yang lebih berorientasi ke manfaat. Dan bagaimana sebuah kualitas diri yang terukur oleh perjalanan waktu, suka dan duka.

"Bener mas,kalau saya puasa 40 hari saja.." berkali-kali si supir mengucapkan itu. "Ah..sudahlah, untuk apa?" timpal saya, "Apa kamu tega melihat orang yang pernah kamu sayangi itu menderita ?" tanyaku sambil tersenyum seakan-akan menantangnya. Si supir hanya diam sesaat lalu senyum-senyum tanpa menjawab pertanyaanku. Tak lama kemudian sampailah kami di terminal keberangkatan, si supir sempat turun dari taksi sambil tersenyum mengucapkan salam sebelum berpisah.


Begitulah sebuah ingatan sesaat yang mengiang selama duduk di bawah kaca jendela retak itu. Kaca yang retak memang menghalangi pandangan, bahkan pemandangan alam nan indah pun jadi suram.


-rdt-

Tuesday, January 15, 2008

Urusan perut!

Di mana-mana, yang namanya urusan perut itu penting.


Coba lirik ke yang merumput di bawah pohon.



Si mbek yang di pinggir jalan.



Atau mereka yang jago meleter.



Hidup untuk makan?



Atau makan untuk hidup?


-rdt-

Monday, January 14, 2008

Loncat!


Apakah virus loncat itu ada?



Mudah menular? Menimbulkan ketagihan ?


Loncat ala tendangan maut?


Loncat sih loncat,asal jangan sampai lupa mendaratnya ya..

-rdt-



Friday, December 07, 2007

Hiu

Sejenak memandang ikan hiu.
Terbersit akan kata sadis.
Yang ganas mengejar amis.
Menelan lahap, tanpa pandang bulu.



Tampak mereka sedang ke sana sini.
Di antara bintang laut , mereka berenang.





Ketika sepasang kaki mendekati.
Mereka malah lari menjauhi.

Konon mereka hidup dalam penangkaran.
Diberi umpan ikan pun mereka tak menyambar.
Entah karena kenyang atau malah tenang.
Yang tak punya alasan untuk berburu mangsa.

Entah bagaimana nasib mereka kelak nanti.
Akankah tangguh alami laksana hiu asli?


-rdt-


Sunday, December 02, 2007

Melangkah di kota tua.
Mengintip sebuah nuansa.
Akan sudut kota yang pernah jaya.
Menyimpan kisah seiring masa.


Kucing belang, kucing hitam.
Bertengger bersama di atas puing.
Di balik gedung yang kini museum.
Ternyata dulu pengadilan si asing.


Derap langkah si hitam putih.
Menyusur tenang tanpa suara.
Tampak bola-bola besi tersusun rapi.
Dalam ruangan yang dulu penjara.

Entah siapa yang pernah ditawan.
Entah juga apa dosa mereka.
Apa mereka si hitam yang memang bersalah?
Atau malah si putih yang sengaja disalahkan?

Dalam masa yang belum merdeka.
Hak yang terkekang tuk bicara.
Di kala benar salah adalah salah.
Salah penjara hal yang lumrah.

Berdayakah mereka saat itu?
Sanggupkah mereka untuk berkata?
Kata orang, itu ulah penjajah.
Semua itu kini hanya sejarah.

Konon zaman telah berubah.
Kini bebas di alam merdeka.
Namun, apa kini benar salah adalah beda?
Atau malah harta yang menjadi raja?

-rdt-