
(Kisah Sawarna 3)
Setelah melewati jalur menurun yang terjal dan berkelok, sampailah di desa Sawarna.
Kita pun bersiap-siap untuk nge-goa alias caving. Goa yang menjadi tujuan adalah goa lalay. Kenapa disebut lalay? Konon kabarnya itu artinya kelelawar, dan di goa itu banyak lalay-nya alias kelelawar.
Sepanjang perjalanan sempat ngobrol dengan guide yang menemani untuk caving. Dia bercerita banyak bahkan tentang desa Sawarna di dahulu kala. Ada cerita tentang romusha sampai tambang batu bara.
Setelah berjalan menyusuri sawah dan sungai di Sawarna, sampailah lokasi goa di kaki gunung. Kami pun menyusuri goa sambil melihat stalaktit , stalakmit. Saya lirik sana-sini namun tidak menemukan ornamen seperti yang pernah ditemukan di goa buniayu.
Berjalan menyusuri air yang kira-kira setengah lutut.
Di beberapa spot tampak banyak kelelawar yang bergelantungan, namun ketik tersorot sinar lampu senter pada ngacir.
Sampai di lokasi ini si guide cerita kalau ada komodo, ternyata yang dimaksud ada batu yang menyerupai komodo di sana.
Di beberapa tempat ada beberapa batu yang warnanya agak putih.
Ketika sedang menuju keluar dan hampir mencapai sinar dari , si guide menanyakan apakah mau coba menaiki goa kecil di atas dinding? Namun mesti memanjat dulu yang cukup tinggi juga. Akhirnya saya pun coba memanjat , ternyata bisa. Ketika berdua bersama guide di atas, beberapa teman pun ikutan. Kita menyusuri goa kecil itu sebelum mengakhiri caving di goa lalay di hari itu.
Yang mengasyikkan saat caving yakni pasti berlepotan lumpur hehehe.... Yang pasti dalam caving kali ini eek-nya kelelawar tak terhindarkan.
Di Sawarna ada goa lauk juga, lauk yang artinya ikan kata si guide. Namun dalam kesempatan ini kita tidak mendatangi goa yang satu itu.
Dalam obrolan, si guide sempat tanya-tanya tentang caving di buniayu. Dia sempat cerita tentang kesulitan mereka dalam peralatan , dan sebenarnya masih banyak lorong yang belum terjamah dalam goa itu. Sempat bertanya ke si guide apakah pernah diajukan ke pemerintah setempat, dia menjawab sudah, namun belum ada tanggapan.
Setelah keluar dari mulut goa, kami pun menyusuri sawah kembali ke arah penginapan untuk agenda berikutnya.
Kembali melewati hamparan sawah yang menghijau, mata pun jadi segar dan rileks .
Sekujur tubuh kotor belepotan lumpur dan eek keleawar, hehe..
Tapi ya jangan nge-goa kalau takut kotor. hi..hi..hi..
No pain, No gain.
-rdt-
Thursday, January 03, 2008
Label: Journey

(Kisah Sawarna 2)
Perjalanan pun dilanjutkan dari Carita, karena hari mulai gelap, perut juga berontak lagi. Maka diputuskan untuk singgah di Malingping. Turun di Malingping kami pun berpencar mencari makanan yang sesuai dengan selera. Saya dan beberapa teman nongkrong di tenda nasi goreng tek-tek.
Ketika sedang makan di depan gerobak, tiba-tiba breet! Listrik di Malingping padam. Ha..ha.. kontan kita ketawa bersama karena ga keliatan tuk nyendok, bahkan sempat ingin kabur tanpa bayar..ha..ha..ha..
Karena medan menuju Sawarna kabarnya agak susah terutama di kala gelap, kita pun nginap terlebih dahulu di Malingping.Gerimis turun ketika kita sampai di penginapan yang konon katanya di depannya itu pantai, namun saat itu sudah gelap jadi tidak kelihatan apa-apa.
Subuh keesokan harinya, ketika sedang lelap tertidur terdengar hujan turun dengan derasnya. Spontan terbangun sebentar lantaran terpikir akan banjir, namun baru ingat kalau sedang tidak di Jakarta.
Ketika pagi tiba, hujan reda aku melangkah keluar penginapan untuk mencari pantai yang dibilang di depan hotel. Ternyata memang benar ada di depan hotel.
Pantai Bagedur, begitu namanya. Pantai yang masih sepi di pagi hari itu.
Iseng-iseng menyusuri pantai di pagi itu. Sambil memandang ke sekeliling.
Sempat muncul rasa heran ketika melihat gulungan ombak dari kejauhan, karena tampak seperti ada sesuatu di atas pasir setelah ombak menyapu pantai.
Namun ketika dihampiri , ada yang bergerak-gerak membenamkan diri ke dalam pasir.
Eh... ternyata itu sejenis kepiting-kepiting kecil yang bertaburan di tepi pantai.
He..he.. Si kepiting malu?
Si kepiting main petak umpet?
Si kepiting olah raga?
ah... mungkin juga itu hanya rutinitas-nya sehari-hari.
Hi..hi..hi...
Apakah bijak berasumsi hanya dalam satu sudut pandang?
Apalagi kalau belum mengerti bahasa kepiting.
-rdt-
Label: Journey

(Kisah Sawarna 1)
Perjalanan menuju desa Sawarna dimulai dari Sarinah.
Ternyata dalam perjalanan ada beberapa kendala, sehingga mesti singgah di Carita.
Sambil menunggu penyelesaian kendala, kami pun mengisi perut.
Sebagian dari kami nongkrong di warung , sebagian juga duduk di tepi pantai .
Sempat kami dilarang oleh satpam pengelola hunian di tepi pantai untuk masuk lewat pintu mereka. Tapi seperti biasa, bisa aja dinego dan akhirnya masuk tanpa biaya.
Di Carita pantainya pasang lumayan tinggi. Ketika duduk kami pun dihampiri oleh para pedagang dan tukang pijit.
Mas, tattonya mas... temporary..!, satu per satu yang duduk pun menggeleng.
Tak lama kemudian lewat tukang suvernir yang menawarkan kepiting hiasan warna orange. Setelah si pedagang berlalu kita pun saling berhadapan, ternyata pada jadi ngiler kepiting saos padang atau asam manis. Haha..
Lalu lewat seseorang dan menjulurkan telapak tangannya menawarkan udang segar. Berlalu juga tanpa hasil.
Dipijit mas, biar enak ga pegel-pegel ! Hehe.... masih belum ada juga yang bergeming untuk transaksi.
Lantas lewat seorang Ibu yang sudah tua. Dek...pisangnya.... 4 ribu borong semua!
Akhirnya diborong juga tuh pisang.
Karena kebelet, akhirnya kami pun ke sana sini mencari toilet.
Meninggalkan pantai Carita, menuju lokasi bus yang sedang diperbaiki.
Tampak dari kejauhan ada sesuatu yang menggoda. Lantas beberapa dari kami pun mendekati lokasi.
Ada kawanan ternak yang sedang merumput di bawah pohon.
Pemandangan yang sederhana, namun sanggup membisikkan makna .
"Kesederhanaan dalam menjalani hidup, yang dengan tekun menghadapi tuntutan perut."
-rdt-
Label: Journey
Wednesday, January 02, 2008

Sebuah ajakan yang terlalu menggoda untuk dilewatkan di penghujung tahun 2007 ini. Setelah ditimbang-timbang, dipikir-pikir, akhirnya memutuskan untuk ikut dalam perjalanan ke Desa Sawarna demi mengikis rasa penasaran.
Menuju Sawarna melihat banyak hamparan sawah. Sawah yang di sepanjang perjalanan serta sawah di tepi pantai .
Tak ketinggalan juga kesempatan untuk caving. Menyusuri goa alami di desa Sawarna.
Serta pantai-pantai, salah satunya pantai Ciantir dengan pesona tanjung layar.
Perjalanan masuk desa yang menjadi harapan untuk cuci mata.
Akan pemandangan alam yang masih bersih dan bebas polusi.
Kenangan di sepanjang jalan bersemi satu per satu .
Yang kan mekar menjadi butir-butir renungan.
-rdt-
Label: Journey

